Sekolah Pertanian?
Sekolah apa itu? Apa saja yang dipelajari? Tidak takut kulit menjadi hitam? Kotor-kotoran ya?
Ya di sini saya akan berbagi pengalaman kepada para pembaca.
Saya bersekolah di salah satu Sekolah Pertanian Menengah Atas di Jawa Tengah.
Banyak sekali pertanyaan yang saya dapatkan dari teman, sahabat, keluarga, tetangga, hingga orang-orang di jalanan setelah Saya bersekolah di sekolah pertanian. Mengapa memilih sekolah pertanian?
Alasan pertama Saya yaitu karena sekolah tersebut menarik!
Kok bisa? Ya, karena saya adalah orang yang berasal dari kota, tidak tahu mengenai bercocok tanam sebelumnya, tidak peduli dengan hijau lingkungan, tidak suka makan sayuran, jarang pula memakan buah-buahan. Wajar apabila saya terkesan saat pertama kali berkunjung ke sekolah tersebut melihat beberapa siswa yang lebih tua satu sampai dua tahun di atas Saya sedang membawa semangka hasil panen mereka! Wow! Menarik sekali! Apalagi Saya menyukai hal-hal baru, dan bercocok tanam atau pertanian merupakan hal baru bagi Saya.
Apa saja yang dipelajari?
Banyak sekali yang dipelajari di sekolah tersebut. Beberapa pelajaran produktif di sana mempelajari tentang tanah, cara persemaian, cara pembibitan, pemeliharaan tanaman, membumbun, memupuk, memberikan zpt, pengolahan pasca panen, sampai kegiatan agribisnis. Luar biasa!
Tidak takut kulit menjadi hitam?
Kegiatan sekolah saya ini memang lebih banyak berada di lapanga atau melakukan praktik. Setelah mendapat teori langsung mengaplikasikannya dalam praktik. Tentu hal itu dapat mempercepat pemahaman siswa terhadap teori yang telah diberikan. Kegiatan lapangan tersebut ada yang dilakukan pada pagi hari, siang hari, bahkan sampai petang. Tergantung dengan tugas lapangan apa yang diberikan oleh guru pengampu produktif tersebut. Kegiatan praktik di siang hari tentu berada di bawah terik matahari yang panas yang akan mengakibatkan kulit menjadi lebih gelap. Tetapi saya tidak takut akan hal itu. Semua dapat dicegah dengan menggunakan pakaian lapangan dengan lengkap.
Kotor-kotoran ya?
Tentu iya! Berani kotor itu baik kan? :p
Just make it happy. Melakukan kegiatan lapang, berkotor-kotor ria bersama kawan-kawan tentu dapat melepas penat. Kalau kotor, kan bisa dibersihkan. Mengapa bingung? Hehehe.
Ya itulah sekilas mengenai sekolah saya. Sekolah Pertanian Menengah Atas.
Mencoba menjadi manusia yang bermanfaat. Karena sebaik-baiknya manusia ialah ia yang bermanfaat bagi orang lain.
Selasa, 12 April 2016
Dimana Para Petani Muda?
Indonesia.
Banyak kata juga makna yang terlintas jika mendengar nama negara tercinta. Negara yang memiliki beranekaragam budaya, negara kepulauan, negara maritim, juga negara agraris.
Berbicara mengenai negara agraris, tentu Nusantara dikenal dengan para penduduknya yang memiliki matapancaharian dibidang pertanian atau bercocok tanam. Dengan segala macam kekayaan sumber daya alam yang dimiliki Indonesia, tentu seharusnya Indonesia sudah menjadi negara maju, terutama dalam bidang pertanian.
Di era modern ini, daya minat para generasi muda dalam bidang pertanian terbilang rendah. Hal ini dapat dibuktikan dengan hanya orang-orang tua saja yang terjun langsung dalam bercocok tanam. Salah satu faktor yang menyebabkan hal tersebut terjadi adalah peran orang tua yang kurang atau tidak mengarahkan anak-anaknya untuk menekuni bidang pertanian. Akibatnya, bidang pertanian di mata jiwa muda, hanyalah hal yang membosankan, tradisional, dan tidak kekinian. Padahal jika tidak dilanjutkan oleh generasi muda, siapa lagi?
Apa kita tidak berpikir bahwa hal apakah yang manusia cari setelah bangun tidur? Makanan, jawabannya.
Makanan pokok penduduk Indonesia adalah nasi. Nasi berasal dari beras. Beras adalah hasil dari bercocok tanam para Petani. Dimana Para Petani Muda?
Banyak sekali peluang pekerjaan dalam bidang pertanian. Mulai dari ahli pertanahan, ahli pembibitan, ahli penanaman, pemupukan, pasca panen, hingga agribisnis.
Sangat disayangkan sekali jika para pemuda saat ini tidak menyukai bidang pertanian.
Jaya Indonesiaku!
Banyak kata juga makna yang terlintas jika mendengar nama negara tercinta. Negara yang memiliki beranekaragam budaya, negara kepulauan, negara maritim, juga negara agraris.
Berbicara mengenai negara agraris, tentu Nusantara dikenal dengan para penduduknya yang memiliki matapancaharian dibidang pertanian atau bercocok tanam. Dengan segala macam kekayaan sumber daya alam yang dimiliki Indonesia, tentu seharusnya Indonesia sudah menjadi negara maju, terutama dalam bidang pertanian.
Di era modern ini, daya minat para generasi muda dalam bidang pertanian terbilang rendah. Hal ini dapat dibuktikan dengan hanya orang-orang tua saja yang terjun langsung dalam bercocok tanam. Salah satu faktor yang menyebabkan hal tersebut terjadi adalah peran orang tua yang kurang atau tidak mengarahkan anak-anaknya untuk menekuni bidang pertanian. Akibatnya, bidang pertanian di mata jiwa muda, hanyalah hal yang membosankan, tradisional, dan tidak kekinian. Padahal jika tidak dilanjutkan oleh generasi muda, siapa lagi?
Apa kita tidak berpikir bahwa hal apakah yang manusia cari setelah bangun tidur? Makanan, jawabannya.
Makanan pokok penduduk Indonesia adalah nasi. Nasi berasal dari beras. Beras adalah hasil dari bercocok tanam para Petani. Dimana Para Petani Muda?
Banyak sekali peluang pekerjaan dalam bidang pertanian. Mulai dari ahli pertanahan, ahli pembibitan, ahli penanaman, pemupukan, pasca panen, hingga agribisnis.
Sangat disayangkan sekali jika para pemuda saat ini tidak menyukai bidang pertanian.
Jaya Indonesiaku!
Langganan:
Postingan (Atom)